Jakarta, Berita Terkini – Bayangkan sebuah pagi di mana anda tidak perlu lagi pusing memikirkan Outfit apa yang akan dikenakan ke kantor, menu bekal apa yang harus disiapkan untuk anak, atau bagaimana menyusun jadwal rapat yang padat. Bagi sebagian masyarakat urban saai ini, skenario tersebut bukan lagi mimipi, melainkan realitas gaya hidup berkat kehadiran asisten kecerdasan buatan (AI).
Jika beberapa tahun lalu AI identik dengan robot kaku atau sekadar algoritma pencarian di internet, kini teknologi tersebut telah bertransformasi menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup modern, berfungsi sebagai teman cerdas yang serba bisa.
Pergeseran gaya hidup ini paling terasa pada bagaimana masyarakat mengatur waktu dan kesehatannya. Dulu saya harus menyewa jasa personal trainer atau ahli gizi untuk menyusun menu diet. Nah sekarang saya cukup memberi tahu AI preferensi makanan dan target berat badan saya, dan dalam hitungan detik, judul menu satu bulan beserta belanjaannya sudah siap, ujar Maya (28), seorang karyawan swasta di Jakarta Selatan.
Salah satu aspek yang paling menarik dari pergeseran gaya hidup ini adalah aspek emosional. AI kini tidak hanya menjawab pertanyaan apa atau bagaimana, tetapi juga mulai berperan sebagai mitra curhat (brainstorming partner) yang tidak menghakimi. Banyak pengguna merasa nyaman mendiskusikan ide-ide kreatif, kekhawatiran pribadi, atau sekadar berlatih percakapan bahasa asing dengan model AI.
Meskipun teknologi ini menawarkan kemudahan yang luar biasa, para ahli gaya hidup mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan. AI harus tetap menjadi alat untuk meningkatkan kualitas hidup, bukan menggantikan keunakan intuisi dan interaski sosial manusiawi yang sesungguhnya.
Penulis: Achmad Ilham
Editor: Achmad Ilham
Copyright © Berita Terkini 2026